Friday, June 5, 2015

Menghadapi Perlambatan Ekonomi? Saatnya Belajar beradaptasi dan Jadi Kreatif.

Perjalanan pulang kerja malam ini dari Cirebon ke Kuningan, tadi saya melihat gerobak tukang jual ‘Fried Chicken’ plus jamur krispi di pinggir jalan yang kadang saya mampir beli kok ya masih buka. Terlihat dagangannya masih banyak. Padahal sudah sekitar jam 9 malam dan jalanan di Kuningan ini sudah sepi. Biasanya jam segitu dia sudah tutup. 

Saya jadi teringat obrolan dengan tukang tempe mendoan langganan di Cirebon yang bilang sekarang dagang lagi sepi dan terjadi dimana-mana. Katanya sampai teman-teman pedagang yang dagang di Jakarta juga merasakan hal yang sama.

Saya yakin ini salah satu penyebabnya adalah perlambatan ekonomi yang terjadi di negeri ini. Dengan pemerintahan baru yang ga jelas kebijakannya, gonjang-ganjing politik, nilai tukar rupiah yang begitu anjlok, ditambah lagi harga bbm yang ga jelas, lebih sering naiknya dibanding turunnya, akhirnya ngerembet ke harga-harga kebutuhan pokok yang ikutan naik. Dollar amrik bakal cuma Rp 10 ribu nampak cuma tinggal janji politik doank, heu :D

Gampangnya kalau lihat kondisi ekonomi makro, liat saja nilai tukarnya. Jadi nilai tukar mata uang suatu negara menggambarkan ekspektasi akan perekonomian negara tersebut. Kalau ekonominya dipandang bagus dan kedepannya bakal bagus, dengan sendirinya yang punya duit pegang / beli mata uang tersebut dan kemudian nilai tukarnya akan naik alias terapresiasi. Demand lebih besar dari supply. Kecuali memang disengaja oleh bank sentralnya untuk mendepresiasi mata uangnya sendiri agar bagus untuk ekspor. 

Pengecualian yang terakhir khan ga terjadi di kita. Bisa dibilang memang kita sedang mengalami perlambatan ekonomi. Orang-orang mulai menahan pengeluarannya, karena kecepatan kenaikan pendapatannya tidak secepat kenaikan harga-harga barang. Kalau orang menahan pengeluaran, lalu siapa yang mau beli produk-produk yang diproduksi oleh para produsen? Pemerintah harusnya bisa sih, tapi duit dari mana?

Teman saya yang pengusaha, yang usahanya terbilang lagi sukses saja bilang, “Memang sekarang lagi susah”. Sebagai pengusaha dia menjadi sulit untuk menentukan harga barang, karena menaikkan harga jual tidaklah mudah. Bisa kabur nanti para pelanggan. Sehingga yang terjadi dia terpaksa harus menurunkan profitnya. Dia nantangin malah kalau ada yang bilang “Sekarang ekonomi baik-baik saja”. (karena ngebelain ‘ndoro’ presiden yang dia pilih), sok alias monggo, terjun sendiri buka bisnis dan rasakan sendiri ‘nikmatnya’ dampak kondisi ekonomi sekarang.

Saya pribadi, walaupun sedang merintis usaha, sebenarnya tidak terlalu takut dengan kondisi ekonomi bagaimanapun. Insya Allah akan selalu ada peluang dari setiap kejadian. Tinggal kita mampu beradaptasi, kreatif, dan menjalankan strategi yang tepat atau tidak. Cuma saya suka kasihan sama orang-orang yang usahanya masih kecil-kecilan, berbisnis masih secara konvensional alias kurang ilmu dan kurang mampu beradaptasi, bagaimana mereka menghadapi kondisi sekarang?

Mengharapkan peran pemerintah? Hahaha, pasti bercanda. Urus saja dulu deh soal nilai tukar sama stabilitas harga pangan. Itu juga kalau bisa.

Semoga kondisi seperti ini bisa ‘membangunkan’ kita-kita yang lagi merintis usaha untuk bisa beradaptasi dan lebih kreatif lagi dalam menyiasati kondisi. You are on your own now.



picture: itsoureconomy.us & izquotes.com/

No comments:

You might like