Thursday, May 14, 2015

Yakin Sekolah Terbaik Cocok Buat Anak Kita?

Seringkali saya mengobrol dengan beberapa orang tua mengenai pendidikan sekolah anaknya dan juga dengan beberapa anak sekolah. Mungkin terlihat hanya sebagai obrolan ringan, tapi sebenarnya saya sedang menyerap ilmu dan pengalaman mereka sebagai bekal untuk mencari cara terbaik dalam mendidik anak saya. 

Rata-rata anak-anak sekolah yang saya ajak mengobrol mengikuti program bimbingan belajar sepulang sekolah. Beberapa diantaranya sering pulang malam demi ikut bimbel sepulang sekolah. Kebanyakan mereka pelajar berprestasi lho dan dari SMA yang dibilang terbaik di kotanya.


Ada pertanyaan yang mengganjal dari saya kalau melihat hal seperti ini: “Kalau memang sebuah sekolah dikatakan yang terbaik, mengapa siswanya masih harus ikut bimbel? Bukannya itu cuma mengulang pelajaran yang sudah dia dapat? Mengapa tidak belajar sendiri atau berkelompok saja?”. Kalau sepulang sekolah dia ikut kursus atau pelatihan di luar yang dia dapat di sekolah, saya pikir masih masuk akal.

Saya cuma berpikir jangan-jangan sebuah sekolah dibilang terbaik karena dilihat dari rata-rata prestasi akademik siswa-siswanya saja bukan dari parameter lain, dan siswa yang masuk sekolah itu memang sudah bagus dari sononya, alias bukan dibina oleh guru setempat. Jadi mereka akan cari jalan sendiri untuk bisa walaupun guru di sekolahnya tidak menjelaskan pelajaran secara baik.

Saya cuma kasihan saja dengan pendidikan anak-anak kita ini. Mereka terlalu diporsir untuk lebih mengurusi akademiknya saja dengan jam belajar yang panjang dan membosankan. Sekolah harusnya bisa mengajarkan cara belajar yang benar dan juga menyajikan pendidikan yang membuat siswa lebih kreatif. Dan yang lebih utama bagaimana agar akhlak dan agama anak lebih baik lagi.

Banyak orang tua sekarang mengeluhkan anak-anak jaman sekarang yang berkurang sopan santunnya dibandingkan saat jaman mereka masih muda. Padahal anak-anak mereka mendapatkan materi lebih dari yang mereka dapatkan dulu. Ya mungkin karena anak jaman sekarang sudah terlalu dijejali untuk lebih ke akademis saja, cuma disuruh buat jadi pinter, tapi tidak diutamakan menjadi baik. Mereka jadi generasi yang merasa jenuh, bosan, dan stres.

Kalau seorang anak didorong untuk punya akhlak yang baik, agamanya benar, harusnya prestasi belajarnya akan mengikuti juga. Karena orang kalau agamanya baik bakal tidak menyia-nyiakan waktu melakukan hal yang ga perlu. Lebih punya tujuan hidup dan terarah. Harusnya belajar menjadi suatu hal yang mereka sukai, bukan yang dipaksakan. Melakukan hal yang mereka sukai tentu hasilnya akan lebih optimal.

Sedikit sharing pengalaman, saya dulu SMA awalnya sekolah di sebuah SMA swasta yang bisa dibilang cuma bisa dilihat sebelah mata, alias bukan sekolah populer, karena yang masuk sekolah itu bukanlah siswa yang NEM-nya bagus. Bisa dibilang cuma sekolah buangan. Jam belajarnya singkat, jam 12.30 s/d 17.00. Tapi sekolah itu memiliki guru-guru yang bagus, karena guru-gurunya kalau pagi mengajar di sekolah negeri yang lumayan bagus, dan siangnya mengajar di sekolah kami. 
Di sekolah itu saya menemukan kesenangan belajar, di luar jam sekolah saya belajar lebih rajin. Selain itu di sekolah saya mendapatkan teman-teman yang menghargai dan mendukung saya. Dan di akhir caturwulan 1 saya, alhamdulillah, nilai total saya cuma terpaut 2 angka dari siswa dengan nilai tertinggi di sekolah itu.

Kemudian cawu 2 saya pindah ke sebuah SMA yang berembel-embel agama dan berbiaya mahal, yang cabangnya ada dimana-mana. Dikenal sebagai sekolah berbiaya mahal dan yang sekolah anak-anak borju. Saya waktu itu masuk ke sekolah itu karena berpikir itu sekolah bagus dan saya bisa lebih berprestasi. Ternyata sekolah itu tidak lebih dari hanya sebuah sekolah yang berjam belajar panjang (masuk 06.45 s/d 14.30) dan membosankan. Dan prestasi sekolah sayapun menurun drastis.

Dari pengalaman itulah, saya merangkum sebuah kesimpulan bagi pendidikan anak saya:
  • Utamakan pendidikan akhlak dan agama ke anak.
  • Biasakan hal-hal baik yang diajarkan agama. Karena kalau kita tidak membiasakan kebiasaan baik ke anak, maka sebenarnya kita sedang membiasakan kebiasaan buruk ke dia. Ingat: membangun habit itu penting.
  • Timbulkan rasa senang belajar kepada anak.
  • Cari metode belajar anak yang tidak membosankan dan mendorong rasa keingintahuan anak. Curiousity pangkal kecerdasan dan kreativitas.
  • Dorong anak untuk menjadi kreatif dan mandiri.
  • Beri contoh ke anak. Kalau anda lebih senang menonton TV atau main HP di rumah, anak juga akan begitu. Begitu juga kalau anda terlihat lebih senang membaca. Memang setelah lelah seharian kerja pas sampai rumah paling enak nyantai nonton TV atau film, tapi anak ga mengerti kalau ayah atau ibunya baru pulang kerja dan cape dan ingin nyantai di rumah. Anak mencontoh apa yang dia lihat. Hati-hati dengan kebiasaan kita yang dilihat anak. 
  • Beri penghargaan ke anak, sekecil apapun prestasinya. Jangan sampai anda menjadi ortu yang kalau nilai anak jelek, marahinnya 1 jam, tapi giliran nilainya bagus, anda memujinya cuma 1 menit.
  • Jangan lempar tanggung jawab pendidikan sepenuhnya kepada sekolah. Pendidikan di rumah justru lebih penting sebagai fondasi. Peran orang tua sangat berperan. Ortu bukan sekedar mesin ATM, tempat anak minta duit. Saya pribadi lebih cenderung untuk melakukan homeschooling, karena belum menemukan sekolah yang bagus bagi tumbuh kembang anak. Monggo baca-baca buku or browsing tentang homeschooling, agar tahu lebih detil.
  • Orang tua harus terus belajar tentang perkembangan metode belajar anak terkini, parenting, dan juga psikologi anak, sehingga bisa kita bisa pilih yang terbaik untuk diterapkan ke anak.


Saya masih baru sebagai orang tua dan masih banyak belajar. Tapi saya belajar dari pengalaman hidup yang pernah saya lalui dan saya ingin anak mendapatkan yang lebih baik dari pada apa yang pernah saya dapatkan. Saya yakin begitu juga anda. 
Semoga bermanfaat :)

No comments:

You might like