Wednesday, March 12, 2014

Sukses Membuka Cabang Bisnis: Belajar Dari Sebuah Bisnis yang Gagal Berkembang (bagian 2)

Sambungan dari tulisan sebelumnya, berikut penjelasan poin-poin yang bisa diambil sebagai pelajaran dari sekolah broadcasting tadi agar kita bisa sukses dalam membuka (cabang) bisnis di suatu daerah baru:

1. Lakukan riset
Untuk memahami karakter suatu daerah yang belum kita kenal dan bagaimana responnya terhadap produk kita, tentunya perlu dilakukan riset ke target pasar kita. Hanya karena sukses di suatu tempat, tidak menjamin akan sukses juga di tempat lain. Beda pasar, beda karakter. Tapi santai saja, risetnya juga tidak perlu yang njelimet, asalkan bisa memberikan gambaran yang jelas tentang target pasar kita dan respon terhadap produk kita. Di riset itu kita bisa mengetahui tingkat pengetahuan target pasar kita terhadap produk kita, termasuk sensitivitas harga, ekspektasi, dll..


2. Edukasi pasar
Seringkali produk yang kita tawarkan butuh penjelasan dan pemahaman terlebih dahulu kepada target pasar, karena mereka belum mengerti apa produk anda dan apa gunanya untuk mereka. Biasanya ini berlaku juga untuk produk-produk yang terbilang ‘canggih’, seperti asuransi, saham, seminar / pelatihan yang belum biasa ada, dll.. 

3. Mulailah dari yang kecil
Nekad investasi besar-besaran, apalagi di bidang yang masih baru untuk target pasar kita tentunya tidak bijak. Kecuali anda sangat percaya diri produk anda bakal terserap pasar. Untuk contoh kasus tadi, rasanya lebih bijak jika sebelum membuka kantor beserta perlengkapannya, lebih baik membangun tim kecil dan membuka pelatihan dengan cara menyewa tempat pelatihan per event dulu (khan tidak setiap hari ada pelatihan, kalau masih baru). Selain itu juga bisa bekerjasama dengan stasiun radio lokal untuk bisa meminjam studionya. 

Sedikit demi sedikit mengedukasi pasar melalui event-event yang tidak memakan biaya banyak, sampai pasar terbentuk dan perusahaan sudah mulai mempunyai nama, barulah dimulai investasi yang lebih besar.

Contoh kasus “mulailah dari yang kecil” di atas, bisa diadaptasikan juga ke bisnis lain, jika memungkinkan. Tergantung bisnis dan skalanya.

4. Konsistensi dan jaga nama baik
Secara konsisten walaupun mulai dari yang kecil, tapi bisnis harus terus berjalan, sehingga eksistensi kita dianggap ada, dan kita tidak dianggap sekedar menjalankan bisnis yang bersifat insidentil. Jika kita bisa menjaga kualitas produk kita, maka konsumen kita yang puas akan mereferensikan produk kita ke orang lain. Dan referensi para user kita ini lebih powerful dibanding iklan besar-besaran berbiaya mahal.


Kira-kira begitu “hasil penerawangan” saya dari sebuah bisnis yang bidangnya kurang lebih mirip dengan yang sedang saya jalani, yaitu di cabang ilmu komunikasi. 

Semoga bermanfaat :)

No comments:

You might like