Tuesday, March 11, 2014

Iklan tidak Etis Hanura (Win - HT) di MNC Kids

Foto tgl 10 Maret '14, sekitar jam 11 siang di MNC Kids
Salah satu alasan saya “menyerah” untuk mau berlangganan TV kabel buat di rumah adalah karena acara stasiun-stasiun TV konvensional (bukan langganan) kita banyak yang tidak bermutu.

Monggo, diabsen satu-satu acara apa saja yang ga bermutu dan ga berguna. Misal: acara-acara gosip yang ada dari pagi sampai tengah malam (Silet, Insert, Kabar-kabari, dll.), acara kriminal (patroli, dll.), lawakan yang ga lucu & musik (Dahsyat dengan lawakan Olga Syahputra yang sering menuai protes, Inbox), dll.. Apa gunanya coba nonton acara-acara seperti itu? Mendidik jelas ga? Menghibur? Yang benar saja acara seperti itu dibilang menghibur.

Sebenarnya saya orang yang jarang nonton TV (Alhamdulillah, sudah tobat :D). Tapi karena kasihan sama anak saya, yang masih 3 tahunan, kalau ikut nonton acara seperti itu pas ada yang nyetel TV, jadi saya & istri sepakat untuk langganan TV kabel.

Berhubung kami bukan orang-orang yang gila nonton TV, maka kami cari layanan TV kabel yang ekonomis saja. Makanya kami pilih Top TV, layanan TV berlangganan yang ga mahal, milik grup MNC, yang kepunyaannya cawapres dari partai Hanura, Hary Tanoesoedibjo.

Gambar: popularycar.blogspot.com
Salah satu channel favorit anak saya adalah MNC Kids, karena disitu dia bisa melihat film kartun favoritnya, Bernard. Itu lho tokoh kartun beruang putih (beruang kutub) yang lucu. Anak saya suka ketawa sendiri kalau lagi nonton tingkah Bernard dan teman-temannya.

Tapi yang menjadi masalah adalah sering kali saat anak kami nonton Bernard di MNC Kids, kok ya ada iklan politik Hanura yang menampilkan Wiranto dan Hary Tanoesoedibjo. Ini khan channel anak-anak, ngapain juga ada iklan politik. Emang anak saya punya hak pilih pas 9 April nanti? Hadeuh, bener-bener ga etis.

Beberapa kali saya kritisi soal ini lewat Twitter dengan me-mention account Komisi Penyiaran Indonesia / KPI (@KPI_pusat), tapi tetap saja ga ada perubahan. Iklan itu masih saja tayang. Saya yakin tanpa saya lapor merekapun, KPI sudah tahu soal ini. Dan nampaknya mereka membiarkannya saja. Makanya benar sindiran orang-orang kalau KPI itu Komisi Pembiaran Indonesia. Mau tayangan etis dan bermutu atau tidak, KPI tutup mata dan makan gaji buta. Kalau ga makan gaji buta, harusnya ada perbaikan di tayangan-tayangan TV kita, karena itulah fungsi mereka.

Saya percaya iklan politik tidak etis semacam tadi tidak akan membawa dampak positif buat perusahaan seperti Top TV dan Hanura, karena ini akan menjadi bumerang. Bagi Top TV, ini jelas merusak citra perusahaan di mata pelanggan. Dan bagi Hanura, maaf kebanyakan kami sudah muak dengan iklan anda.

No comments:

You might like