Friday, March 7, 2014

Empowering "TKI": for More Money & Pride of the Nation

Beberapa waktu lalu saya mengobrol dengan seseorang yang pernah bekerja di sebuah negara teluk. Saya lupa menanyakan apa pekerjaan dia selama dia disana, tapi melihat background pendidikannya yang S1 & kualitas bicaranya, rasa-rasanya dia bukan TKI biasa.

Dia bercerita tentang pengalaman dia dan seputar dunia ketenagakerjaan disana. Dari obrolan kami tersebut, saya bisa mengambil beberapa poin tentang seputar tenaga kerja disana, yang diantaranya:


1. Kendala Bahasa
Penguasaan bahasa asing (Arab dan Inggris) ternyata menjadi poin penting kesuksesan orang disana. Dan yang paling beruntung untuk poin ini adalah orang Filipina yang jadi pekerja disana, karena mereka sedari kecil sudah terbiasa berbicara bahasa Inggris. Mungkin karena pernah menjadi negara jajahan Amerika dan sampai sekarangpun Filipina masih berhubungan dekat dengan Amerika. Makanya tidak heran orang Filipina ada di tiap level jabatan pekerjaan di Arab sana, dari bawahan sampai ke level manajer. Orang Indonesia kalau soal bahasa, ya you know lah, little-little sih we can (Vicky, mana, Vicky???) :D

2. Kerapihan kerja
Untuk poin ini orang Indonesia masih termasuk lebih baik dibanding dengan orang dari Bangladesh dan Srilangka/ Pakistan (sori agak lupa :D). Mereka cenderung lebih jorok, katanya. Tapi kita bukan yang terbaik juga sih untuk poin ini.

3. Kecerdasan / kemauan dan kemampuan belajar
Untuk soal ini, kita juga lebih mending dari orang-orang yang negerinya disebut di atas. Biarpun sistem pendidikan kita “begitu-begitu saja” kualitasnya, tapi kita diakui cukup cerdas dan mau belajar. Tapi ini juga tidak menempatkan kita sebagai yang terbaik untuk poin ini. 

Ketiga hal tersebut merupakan sebagian modal kesuksesan seseorang dalam bekerja disana. Tapi dari poin-poin di atas bisa diambil pelajaran agar sumber daya manusia Indonesia semakin membaik kualitasnya. Maka untuk itu, ada beberapa poin dasar yang diperbaiki yang di antaranya:

  1. Menanamkan sikap mau belajar dan beradaptasi dengan pekerjaan dan budaya lokal. Kredo salah satu unit pasukan khusus Amerika saja bunyinya, “Menangkan hati dan pikiran orang lokal”
  2. Kuasai kemampuan komunikasi, terutama dalam hal bahasa lokal tempat kerja.
  3. Melakukan pekerjaan secara tuntas dan memperhatikan detil

Tentunya masih banyak poin lagi yang harus dibenahi. Dan tidak usah menunggu pemerintah untuk memperhatikan hal-hal seperti tadi (you know-lah, lambannya pemerintah bagaimana. Khan menterinya merangkap ketua partai yang lagi sibuk mau Pemilu). 

Intinya bisa kita mulai dari diri sendiri untuk berubah lebih baik lagi, sehingga menginspirasi yang lain. Semoga ke depannya Indonesia tidak mengekspor pembantu dan pekerja kasar lagi, tapi pekerja terdidik dan terlatih. Sehingga tidak layak lagi dibilang kita mengekspor TKI / TKW, tapi kita mengekspor ekspatriat / tenaga profesional yang duitnya lebih banyak dan bisa menjaga harga diri bangsa. Amiin :)

gambar: soundtransit.org

No comments:

You might like