Friday, February 28, 2014

Kenapa Bimbel Laku dan Guru Harus Bisa Public Speaking?

Gara2 lg renov, jadinya parkir di trotoar. cc: @RidwanKamil :D
Tempat kerja saya yang dulu dekat sebuah sekolah swasta milik seorang ownner sebuah lembaga bimbingan belajar (bimbel) ternama di Bandung. Hampir setiap kali saya lewat sekolah itu saya melihat BMW seri 3 terbaru warna putih parkir di sekolah itu. Karena parkirnya selalu di tempat yang istimewa, makanya saya yakin itu punya si "owner" tadi. Khan rasa-rasanya ga mungkin punya salah seorang guru disitu.


Suatu hari saya kirim, via Whatsapp, foto mobil itu ke salah seorang sahabat saya yang kebetulan seorang master trainer bidang public speaking. Terus sahabat saya bilang, “Itu pertanda apa coba, mas?” Waduh saya langsung ga mudeng maksud arah pembicaraannya apa, sampai dia ngomong begitu.

“Itu pertanda sistem pendidikan kita gagal”, sambung dia.

“Lho kok?” Jawab saya, sambil masih agak ga mudeng apa hubungannya mobil mewahnya owner bimbel sama sistem pendidikan kita. Yang kepikir sama saya, bisnis bimbel itu bisnis yang menguntungkan, makanya yang punya bimbel yang sukses bisa punya mobil mewah.

“Iya, maksudnya (lembaga) bimbel laku karena anak-anak tidak mendapatkan pelajaran secara baik di sekolah. Kebanyakan guru tidak bisa menjelaskan pelajaran ke para siswanya sampai mereka benar-benar paham. Yang gara-gara itu jadinya para siswa harus mencari pelajaran tambahan di luar. Dan yang diuntungkan tentunya tempat-tempat bimbel itu.”

Ooo… iya juga sih. Makanya ga heran owner bimbel tadi bisa punya BMW baru. Jadi kebayang, apa ya mobilnya owner bimbel lain yang lebih sukses? Terus dipikir-pikir kasihan juga para siswa kalau harus ikut bimbel untuk mengulang pelajaran sekolah. Kenapa juga ga belajar sendiri pas malam. Mendingan waktu pulang sekolahnya digunakan buat kegiatan lagi, misal ekstrakurikuler atau pelajaran yang ga didapat di sekolah, seperti belajar bela diri, bahasa asing, komputer, atau public speaking. Lagian ikut bimbel itu mahal lho, jadi ya kasihan para orang tua. Mending uangnya ditabung buat persiapan biaya kuliah anaknya.

Dan dari obrolan saya dengan sahabat saya tadi diambil kesimpulan bahwa agar para guru bisa mengajarkan secara menarik dan lengkap, maka para guru harus memiliki kemampuan public speaking yang baik. Bukan sekedar bisa ngomong di depan kelas, tapi juga bisa menginspirasi para siswa. Jadi mereka tidak mengajar seadanya, apalagi cuma "ngomong dengan papan tulis", tanpa memperhatikan siswanya mengerti atau tidak. Dari situ saya paham apa hubungan public speaking dengan sistem pendidikan kita.

Saya berharap para guru kita bisa membawakan pelajaran secara menarik dan lengkap, sampai para siswa benar-benar paham dengan apa yang disampaikan. Jadi ga perlu ke bimbel lagi dan waktu siswa bisa digunakan secara produktif.

Semoga sistem pendidikan kita bisa berubah ke arah yang lebih baik lagi.

2 comments:

dondigdo said...

ooo jadi begitu ya.

Anton Fathoni said...

yoi, oom pedro :D *CMIIW*

You might like