Wednesday, February 26, 2014

“Ini Perusahaan, bukan Panti Sosial”

Wih judulnya sangar banget ya. Mungkin anda menyangka itu adalah kalimat yang diucapkan oleh seorang bos yang galak dan tidak manusiawi.

Ternyata tidak juga lho. Saya dapatkan kalimat itu dari seorang sahabat yang merupakan pemilik salah satu perusahaan konsultan pemasaran yang cukup besar di Bandung. Saya mengenal dia sebagai seorang bos yang baik dan manusiawi (kebetulan saya pernah jadi anak buah dia juga).


Kalau tidak salah, dia mengeluarkan statement itu gara-gara pada suatu hari saya berdiskusi dengan dia tentang bagaimana cara me-manage SDM perusahaan dan tentang banyaknya demonstrasi buruh yang menuntut “hak-hak” mereka. Ya bagi kami orang kantoran atau pemilik perusahaan, tuntutan buruh itu terkadang tidak masuk akal.

Lha wong, ga masuk akal bagaimana, orang-orang yang kerja di kantoran dengan tingkat pendidikan yang cukup tinggi di Bandung (rata-rata D3 dan S1), gajinya masih banyak yang cuma Rp 2 – 3 juta, sedangkan di tempat lain para buruh berdemonstrasi minta gaji / UMR dinaikkan sampai di atas Rp 3,5 juta. Tentunya dalam hidup kita harus adil, yang artinya menempatkan sesuatu hal pada tempatnya, bukan asal membagi rata ala komunisme.

Tentunya dalam masalah penggajian atau pemberian benefit ke karyawan, perusahaan yang baik bakal mempertimbangkan output yang dihasilkan oleh karyawan. Misal, apa adil jika seorang office boy biasa digaji sama dengan seorang tenaga pemasaran yang menghasilkan keuntungan per bulan kepada perusahaan sebesar Rp 100 juta. Katakanlah gaji mereka sama-sama Rp 5 juta. Tentu tidak khan? Terus apa orang yang kerja males-malesan dan yang rajin gajinya disamakan itu adil. Kata sahabat saya tadi, “Ini Perusahaan, bukan panti sosial”. Maaf bukan maksud merendahkan panti sosial, tapi maksudnya adalah perusahaan bukan tempat dimana anda tetap digaji / diberi makan, walaupun tidak bekerja secara optimal. 

Memang kalau dilihat dari sisi kemanusiaan, setiap orang punya standar hidup yang layak, dan untuk memenuhi standar tersebut dibutuhkan pendapatan minimum. Ya mungkin Rp 4 juta adalah angka yang pas untuk mencapai standar tersebut. Tapi tentunya harus dilihat juga kemampuan perusahaan dan output yang dihasilkan oleh pegawai. Jangan sampai karena memaksakan UMR sama rata sebesar itu, malah akan membuat perusahaan mengadakan PHK massal, relokasi perusahaan, atau mengotomatisasi perusahaan (mengurangi atau menggantikan tenaga kerja dengan robot). Ujung-ujungnya yang dirugikan adalah para tenaga kerja.

Sebenarnya ada cara yang bisa digunakan oleh mereka yang ingin pendapatannya meningkat, yaitu dengan cara meningkatkan kemampuan / skill, agar bisa lebih produktif dan karir bisa lebih meningkat. Seharusnya yang dilakukan oleh serikat buruh dan pekerja adalah menyediakan pelatihan dan konsultasi untuk meningkatkan keahlian dan karir anggotanya, bukan sekedar memprovokasi demonstrasi. Kecuali memang visi dan misi organisasinya itu. Jadi idealnya semboyan serikat buruh yang bagus adalah: “Bergabunglah dengan serikat buruh kami, agar anda tidak menjadi buruh lagi (karir meningkat atau bisa punya usaha sendiri)” :D. Lagian pilihan hidup dan bekerja khan tidak cuma dengan menjadi buruh.

Selain itu diharapkan juga tentunya perusahaan harus berusaha mensejahterakan karyawannya, dengan peduli kepada kebutuhan karyawan dan masa depan karir mereka (seperti menyediakan pelatihan-pelatihan yang mendukung peningkatan kinerja, dan jenjang karir yang jelas).

Tulisan ini saya tulis, karena saya miris dengan kondisi ketenagakerjaan kita, yang malah akan memperburuk hubungan industrial, yang ujung-ujungnya tidak ada peningkatan skill dan etos kerja SDM Indonesia dan menurunnya investasi yang masuk ke Indonesia. Ujung-ujungnya semua pihak dirugikan.

Semoga Indonesia bisa menjadi lebih baik dan lebih produktif lagi :)

No comments:

You might like