Wednesday, February 26, 2014

Ikut Golput = Membiarkan Kejahatan Berkuasa?

“The only thing necessary for the triumph of evil is for good men to do nothing” 
Edmund Burke 

Quote di atas pertama kali saya baca di sebuah ending film yang menceritakan tentang masa awal bangkitnya Hitler & paham Nazi-nya di Jerman (saya lupa judul filmnya). Ya, yang dibutuhkan oleh sebuah kejahatan untuk bisa berjaya adalah saat dimana orang-orang baik tidak peduli / tidak melakukan apapun saat kejahatan muncul.

Hal ini bagi saya mirip gerakan golput atau “golongan putih” yang tidak mau terlibat politik sama sekali, meskipun itu hanya sekedar “mencoblos” / menggunakan hak pilih.

Saya paham bahwa kebanyakan kita, termasuk saya dan orang-orang penganut “golongan putih”, merasa muak dengan kelakukan para “politisi busuk” kita yang melakukan korupsi, kerja tidak profesional, tindakannya yang tidak berakhlak dan ‘ga punya otak’, dll.. (tentunya tidak semua politisi seperti itu).

Dengan tidak memilih partai apapun atau calon presiden atau kepala daerah manapun, orang-orang golput mengganggap dirinya suci. Tidak menjadi bagian dari aksi kriminal para politisi busuk tersebut. “Khan saya tidak ikut mencoblos mereka”, mungkin itu pikir mereka yang memilih golput dan menggeneralisir bahwa semua politisi itu sama. Sama busuknya. Tentunya ini sebuah pemahaman yang salah, karena tidak semua politisi begitu..

Tapi ingat! Dengan tidak memilih / ikut berpartisipasi dalam politik, maka anda sama saja membiarkan mereka (para politisi busuk) menang dan berkuasa, sehingga membiarkan negara ini dijalankan oleh orang-orang jahat itu. Ingat, angka golput sampai 70% sekalipun, mereka tetap sah memimpin kalau mereka sampai menang.

Jadi jika anda golput, sama saja anda membiarkan negara ini dijalankan oleh orang-orang yang tidak peduli dengan pendidikan generasi penerus kita, membiarkan kemiskinan tetap merajalela, penistaan agama menjadi legal, akhlak warganya dibiarkan memburuk, dll.. Persis dengan tulisan Bertolt Brecht, seorang penyair Jerman, di bawah ini:

“Buta terburuk adalah buta politik, dia tidak mendengar, tidak berbicara, dan tidak pula berpartisipasi dalam event-event politik. Dia tidak tahu bahwa biaya hidup, harga kacang, ikan, tepung, biaya sewa, sepatu, dan obat, semua tergantung keputusan-keputusan politik. Buta politik sangatlah bodoh hingga dia (yang buta politik) dengan bangga dan membusungkan dada mengatakan bahwa dia benci politik. Orang dungu itu tidak tahu bahwa dari ketidakpedulian politiknya itu lahirlah pelacur, anak yang disia-siakan, dan pencuri-pencuri terburuk dari yang pernah ada, politisi buruk, perusahaan-perusahaan nasional & multinasional yang korup dan penjilat.”

Mungkin tidak ada partai atau calon pemimpin yang ideal dan sempurna buat kita. Tapi kita bisa melakukan optimalisasi terhadap pilihan yang kita miliki. Di antara semua pilihan yang ada, kita pilih yang paling mending, kita pilih yang paling optimal.

Optimalisasi memang bukan maksimalisasi. Contoh optimalisasi seperti misal ada seseorang  yang terkena infeksi, dimana pilihannya adalah dia harus mengamputasi tangannya yang terinfeksi atau dia akan kehilangan nyawanya. Tentunya siapa juga yang mau kehilangan tangan. Tapi itu adalah pilihan terbaik untuk saat itu dibanding kehilangan nyawa. 

Jadi walaupun tidak ada partai yang sempurna, pilihlah yang paling mending di antara pilihan yang ada. Pilih partai yang sesuai dengan prinsip anda dan dia kuat memegang prinsipnya, tidak bergantung pada kultus individu, terus membina anggotanya agar menjadi orang baik, sigap melayani tanpa pamrih dan terus menerus, dan tujuan partainya tersebut tujuan universal manusia yang menuju kebaikan. Partai yang baik tentunya akan memunculkan kader-kader berkualitas yang siap menjadi pemimpin atau mendukung pemimpin yang baik dan konsisten. 

Pastinya pilihan saya belum tentu sama dengan pilihan anda. Tapi yang pasti, jangan biarkan orang-orang jahat berkuasa memimpin negeri ini, dan jangan sampai ketidakpedulian kita akan menciptakan “Hitler-Hitler” baru di negeri ini. 

Jadi, tentukan pilihan anda di tahun 2014 ini, dan tahun-tahun selanjutnya. Jangan termakan oleh pencitraan dan janji-janji palsu. Pilih yang terbaik menurut kita, dukung kinerjanya, kritisi, dan bantu evaluasi. Untuk Indonesia yang lebih baik, tempat bagi anak cucu kita tumbuh berkembang di masa yang akan datang.

Semoga bermanfaat :)

gambar: ajenglazuardi.blogdetik.com

No comments:

You might like