Tuesday, February 25, 2014

Cerita Talenta Putra-putra Terbaik Indonesia: Dari IPTN ke Airbus

Saya percaya orang Indonesia itu banyak yang pintar-pintar. Sayangnya banyak dari para jenius kita ini yang berkarir di luar negeri. Padahal Indonesia, negeri tercinta kita ini, membutuhkan mereka.

Gara-gara saya baru baca artikel tentang kesuksesan PT. Dirgantara Indonesia, atau biasa disebut PT. DI mendapatkan proyek pembuatan pesawat militer dari pemerintah Filipina, saya jadi pengen menulis tentang talenta-talenta terbaik negeri kita yang tersia-sia di negeri sendiri, tapi sukses di luar negeri.


Seperti kita ketahui PT. DI merupakan sebuah perusahaan strategis kebanggaan Indonesia yang memproduksi berbagai macam pesawat. Perusahaan ini dulunya bernama IPTN (Industri Pesawat Terbang Nusantara). Tentunya kalau kita ingat IPTN, kita jadi ingat kejeniusan pak Habibie. Gara-gara krisis moneter yang menerpa Indonesia pada tahun ’98, yang membuat kita harus mengemis bantuan IMF. Maka demi memenuhi syarat dari IMF, agar bantuan turun, maka pemerintah kita dipaksa menghentikan dukungan ke IPTN, dan akhirnya IPTN pun hampir bangkrut.

Karena alasan itu, akhirnya IPTN melakukan rasionalisasi, banyak melakukan pemecatan pegawai dan akhirnya banyak talenta terbaik Indonesia di dunia penerbangan tersebut merintis karir di perusahaan pembuat pesawat di luar negeri.

Salah satu kisah menarik tentang para “TKI spesial” ini saya dapat dari sahabat saya sewaktu dia sedang sekolah S2 di Bristol, Inggris. Dia bilang, Bristol merupakan salah satu kota tempat produksi pesawat-pesawat buatan Airbus (pesaing utama Boeing untuk pembuat pesawat komersial terbesar di dunia).

Di kota ini dia berkenalan dengan orang-orang Indonesia yang bekerja di Airbus, yang ternyata merupakan mantan karyawan IPTN / PT. DI. Mereka banyak yang bekerja di Airbus ini karena kena PHK massal IPTN/ PTDI saat krismon ’98.

Ada cerita menarik dari sahabat saya ini, saat dia mengobrol dengan salah satu orang Indonesia yang bekerja di Airbus tersebut. Orang Indonesia ini cerita waktu dia di-interview untuk masuk kerja di Airbus, dia dites oleh pihak Airbus untuk menggunakan sebuah software yang berhubungan manufaktur pembuatan pesawat. Dan orang Indonesia inipun bilang, “Wah saya belum pernah mencoba software ini. Kalau kami di IPTN sudah menggunakan software yang sudah lebih baru dari ini, tapi baiklah saya coba.” Ibaratnya orang ini biasa pakai CorelDraw X5, dites disuruh pakai CorelDraw 9.

Anda jangan bayangkan software yang diujikan seperti software yang bisa anda bajak dan gunakan di PC pribadi, dan kalaupun anda beli versi aslinya paling-paling harganya belasan juta doank. Ini software yang customized buat bikin pesawat lho. Dan perusahaan pembuat pesawat di dunia ini ga banyak.

Dari cerita ini, saya mendapatkan pelajaran bahwa Indonesia melalui IPTN, telah berinvestasi cukup besar dalam hal sumber daya manusia, demi mengembangkan industri penerbangan di Indonesia.

Dan yang sangat disayangkan lagi tentunya adalah talenta putra-putri Indonesia yang keluar dari Indonesia untuk membangun karir di luar negeri, karena Indonesia dianggap tidak mempunyai peluang karir yang menarik.

Selain itu, industri penerbangan tentunya merupakan sebuah industri yang strategis bagi negeri yang begitu luas dan memiliki banyak pulau yang perlu saling terhubung, seperti Indonesia ini. Memiliki armada pesawat yang banyak menjadi sebuah keharusan bagi Indonesia. Dari pada uangnya dibelanjakan keluar untuk beli pesawat, tentu lebih baik digunakan untuk membeli produk dalam negeri. Harga pesawat itu mahal banget lho.

Semoga dengan semakin majunya PT. DI dan industri-industri strategis lainnya di Indonesia, membuat talenta-talenta terbaik negeri ini mau tetap bekerja di Indonesia dan membangun negeri yang kita cintai ini.

NB: tulisan ini saya buat di awal tahun 2014, tapi baru posting sekarang :p. Semoga bermanfaat.

gambar: www.airbus.com

No comments:

You might like