Thursday, September 26, 2013

Berapa harga yang berani anda bayar untuk belajar dan menjadi lebih baik?

Beberapa waktu lalu, saya mengadakan sebuah pelatihan gratis tentang ilmu yang berhubungan dengan public speaking selama full 2 hari, yaitu pada hari Sabtu & Minggu. Walaupun ini gratis, saya jamin tidak murahan, karena materinya berkualitas.

Ko bisa gratis? Kebetulan saya mendapatkan seorang sahabat sekaligus pembicara yang luar biasa banyak ilmunya, terutama tentang public speaking, dan mau berbagi tanpa pamrih. Selain itu saya dapat support dari sahabat saya yang lain untuk tempat yang representatif dan fasilitas yang memadai untuk digunakan secara gratis juga.

Dan alhamdulillah acara ini banyak peminatnya, sampai-sampai saya harus menolak beberapa calon peserta yang mendaftar, karena sudah penuh.

Salah satu yang mengagumkan dari acara ini adalah adanya seorang peserta, yang waktu mendaftar sempat saya tolak karena sudah full book. Tapi akhirnya saya persilakan buat ikut training ini, karena sepertinya dia sangat ingin ikut acara ini, yang terlihat dari isi SMS yang dia kirim dan bahkan sampai-sampai dia kontak langsung pembicaranya. Jadi ga tega o:-)

Dia ternyata salah seorang siswa di sebuah sekolah berasrama dengan sistem semi militer, dan terkenal menerapkan disiplin yang sangat ketat. Dia bercerita bahwa untuk ikut pelatihan ini, dia sudah minta ijin untuk bisa keluar dari lingkungan sekolah dia (karena sekolahnya menerapkan sistem asrama, maka tidak bisa keluar masuk dengan bebas).

Walaupun dia sudah diberi ijin, tapi ijin keluarnya baru diperbolehkan agak siang, maka tentunya dia akan terlambat datang di tempat acara yang jaraknya cukup jauh, apalagi acara dimulai pagi. Oleh karenanya dia nekat kabur (ckckck, badung juga :D ).

Saya akhirnya tahu dari dia, bahwa kalau sampai ketahuan dia kabur (walaupun untuk niatan baik), dia bakal “habis” dihukum. Kalau ga salah dia cerita, hukumannya itu kombinasi antara disuruh push up, lari, dan bahkan direndam! Oooo, jebret sekali hukumannya! :D

Dan yang lebih mengejutkan lagi adalah reaksi dia tentang risiko yang harus diambil untuk ikut pelatihan kami ini. Kurang lebihnya, dengan nada biasa, dia bilang begini “Ya ga masalah kalau dihukum, ya tinggal dijalanin saja. Tar besok saya bakal begitu lagi  buat ikut training ini (yang hari ke-2). Kalau ketahuan lagi, ya dihukum lagi. Dan kalau besok saya ga datang training hari ke-2, berarti saya sudah ga bisa jalan karena kecapean, heu.”

Saya tersentak juga dengar cerita dia. Salut. Saya melihat teman baru saya ini, nampaknya bukan orang yang badung. Kelihatan sebagai orang baik-baik dan sholeh. Dan saya salut dengan motivasinya. Dan dari dia ini, saya mengambil beberapa pelajaran dari dia, yang cukup menginspirasi. Diantaranya:

1. Hidup tidak usah dianggap ruwet.
What the worst can be? Ringan saja dalam menghadapi hidup, tapi tetap serius. Dengan begitu kita bisa melihat setiap masalah secara objektif dan mencari solusinya. Ada pepatah mengatakan bahwa hidup ini seperti secangkir kopi. Jika anda tidak bisa menikmatinya, maka hidup akan terasa pahit.

2. Keberanian untuk berkorban demi sebuah tujuan dan kebaikan. Karena tidak ada yang mudah untuk menjadi lebih baik. Ada harga yang harus dibayar. Tentunya niatkan untuk suatu kebaikan.

3. Semangat yang kuat untuk terus belajar dan lebih maju. 
Walaupun sudah tidak sekolah atau kuliah lagi, bukan berarti berhenti mencari ilmu. Orang yang sukses dan maju, dipastikan orang yang terus belajar dan mengasah diri. Be lifetime learner.

Salut saya dengan sahabat baru saya ini untuk sebuah keberanian dan keinginan untuk belajar untuk menjadi lebih baik. Dan alhamdulillah dia bisa ikut training ini selama 2 hari, dengan selamat. tanpa melewati hukuman.

Well done. Good luck, bro :)

No comments:

You might like