Wednesday, September 18, 2013

Hikmah dan Pelajaran dari kasus Dul atau AQJ

Di setiap peristiwa tentunya ada hikmah yang bisa diambil sebagai pelajaran. Salah satunya kasus Dul (a. k. a. AQJ), putra musisi Akhmad Dhani. Peristiwa ini memberikan pelajaran tentang arti kasih sayang orang tua kepada anak. Dan saya jadi teringat tentang obrolan saya dengan seorang teman saya yang bernama Rocky.




Beberapa tahun lalu, Rocky bercerita tentang sebuah percakapan antara dia dan ayahnya, sewaktu Rocky masih remaja. Kurang lebihnya begini: pada suatu waktu Rocky minta dibelikan sesuatu kepada ayahnya. Walaupun ayahnya terhitung mampu, ternyata ayahnya itu tidak mengabulkan permintaan teman saya itu. Tentunya Rocky protes. Lalu ayahnya mengatakan, “Ayah kerja dan bisa membeli ini itu, termasuk rumah ini, semua itu buat keluarga, termasuk Rocky. Suatu saat rumah ini juga akan jadi milik Rocky  Tapi kalau ayah tidak dan menuruti dan membelikan apa yang Rocky minta, justru itu demi kebaikan dan perkembangan Rocky.  Karena sayang, makanya ayah tidak mau Rocky terluka kalau ayah belikan yang Rocky mau itu.”

Rocky nggak cerita tentang benda apa yang dia minta belikan ke ayahnya itu. Bisa jadi motor, mobil, atau Playstation. Tapi dari cerita itulah saya bisa mengambil pelajaran tentang arti sayang. Saya jadi teringat tentang arti kasih dan sayang, dari seorang dokter / seksolog di sebuah seminar edukasi pra-nikah. Sebagai muslim, kata kasih dan sayang sering kita sebutkan setiap hari lho, dan seringkali tanpa kita sadari. Itu lho dalam ucapan basmalah. “Dengan nama Allah yang maha pengasih dan maha penyayang.” Tapi definisi kasih dan sayang itu apa?

Kalau kata dokter itu, kasih itu berarti bersedia memberikan apa saja kepada yang kita cintai. Dan kalau sayang itu perasaan untuk tidak mau orang yang kita cintai terluka / tersakiti. Kurang lebihnya begitu kata dia. Jadi kasih itu ibarat gas dan sayang itu ibarat rem, kalau di mobil.

Ayah Rocky tentu saja mencintai anaknya. Minta apa saja, kalau dia mampu kasih, dia akan kasih. Tapi tentunya si Ayah ga mau Rocky “terluka”. Bayangkan kalau kita punya anak dan kalau minta apa saja kita turuti, bisa jadi nanti dia akan tumbuh menjadi seorang yang manja, tidak menghargai usaha, tidak menghargai jerih payah, jadi pemalas, ceroboh, mental cengeng, temperamental, dll.. Mau punya anak kaya begitu?

Lalu bayangkan, misalkan anak anda masih SD, naik sepeda saja baru bisa “kemarin sore”, minta dibelikan Yamaha Mio atau Honda Beat, lalu anda turuti. Lalu karena dia masih anak-anak yang suka main, dia ajak teman-temannya boncengan bertiga naik motor, ngebut tanpa helm pula. Pemandangan ini sering kita lihat khan di jalan di Indonesia? Apa ini artinya kasih sayang orang tua? Atau orang tua yang tidak punya perhatian ke anak, jadi main kasih saja tanpa “melihat”? Bagaimana kalau terjadi kecelakaan yang tidak hanya melukai anak itu sendiri tapi juga orang lain? Masa depan anak anda ditentukan oleh motor matic?

Kasus Dul buat saya pribadi memberikan pelajaran tentang bagaimana sebaiknya orang tua dalam menunjukkan kasih sayang kepada anak-anaknya. Memanjakan anak dengan materi bukan sebuah hal yang baik. Manjakan anak dengan kasih sayang yang bersifat emosional, mengetahui apa yang dia butuhkan (bukan sekedar yang dia inginkan), membekali dengan pendidikan yang bisa membangun akhlak, karakter dan meningkatkan ilmu. Tentunya hal-hal tersebut lebih baik bagi anak kita, dibandingkan sekedar memanjakan dengan materi. Bukan maksud kita sebagai orang tua harus jadi pelit, tapi lebih ke selektif dalam memberikan sesuatu, berdasarkan kebutuhan dan manfaat.

Dan sebagai orang tua yang pasti harus bisa memberikan contoh yang baik. Contohnya: anda tidak bisa menyuruh anak anda tidak merokok, kalau sebagai ayah anda merokok. Anda tidak bisa menyuruh anak rajin sholat dan ngaji, kalau orang tuanya tidak begitu.

Sebagai tambahan, maaf kalau saya sambung-sambungin, hal tersebut diatas juga mirip motto salah satu kesatuan pasukan elit di Indonesia lho. Mottonya “Kesejahteraan tertinggi seorang prajurit adalah latihan”. Iya, ternyata menurut si Jendral yang mencetuskan mottto ini buat kesatuannya, hal  utama (tertinggi / ultimate) yang bikin seorang prajurit itu sejahtera itu latihan, bukan alat tempur yang canggih, atau gaji yang besar. Dengan latihan maka ilmu bertambah dan karakter terbentuk, sehingga bisa memanfaatkan apapun alat yang ada secara optimal, untuk mencapai misi / tujuan.

Semoga bermanfaat :)

Picture: http://graciebarra.com

No comments:

You might like