Tuesday, September 24, 2013

Pelajaran dari Sosok Eyang Habibie

Kemarin saya melihat rekaman video Mario Teguh Golden Ways (MTGW) dengan tema “True Love”, dan menampilkan bintang tamu Bapak / Eyang Habibie. Temanya menarik dan kebetulan timing-nya pas banget saya menonton ini, di saat anniversary pernikahan saya yang ke-4 ^.^. Banyak pelajaran yang didapat dari MTGW episode ini. Bisa dibilang ini merupakan MTGW episode terbaik yang pernah saya tonton.

Tapi di tulisan ini, saya tidak membahas tentang isi acara itu, tapi saya lebih ingin menulis tentang sosok eyang Habibie. Dia merupakan salah seorang yang saya kagumi sejak dulu, karena kecerdasan, kesholehan, dan kerendahhatiannya.

Di video itu saya melihat dia nampak semakin berumur. Ah tak terasa waktu berlalu, seolah saya masih merasa dia masih umur sekitar 50-an. Saya berasa kaget waktu dia bilang disitu bahwa dia lebih cenderung minta dipanggil Eyang dibanding Pak, Bapak, atau Bapak Presiden. Rendah hati sekali.

Saya salut dengan beliau yang di dalam masa hidupnya ini dia bisa begitu efektif dalam melalui hidup dan memanfaatkan waktu. Padahal semua orang punya waktu 24 jam per hari yang sama, tapi dia melakukan pencapaian yang luar biasa yang tidak semua orang bisa capai.

Mungkin sebagian besar kita seringkali tercenung, di saat sedang sendiri, betapa waktu berlalu begitu cepat. Tak terasa, 10 tahun seolah berlalu seperti baru bulan kemarin saja. Jujur saya kadang suka merasa begitu. Dan selama waktu berlalu, apa yang sudah kita lakukan dalam mengisi hidup yang bisa memberi manfaat bagi sesama?

Menurut ustadz Yusuf Mansur, dari salah satu ceramahnya yang pernah saya dengar, kurang lebihnya dia bilang begini: umur itu seperti sebuah sapu lidi. Di saat muda, kita itu seperti sapu lidi yang utuh, yang terdiri dari banyak batang lidi yang diikat jadi satu. Seiring waktu, lambat laun satu persatu lidi patah / tercabut dari ikatan sapu tersebut (namanya juga barang dipakai setiap hari).

Tak terasa tinggal sedikit lidi yang tersisa dalam ikatan, sehingga sudah tidak enak lagi untuk menyapu. Sudah tidak efektif lagi untuk membersihkan. Hingga suatu saat sapu ini akhirnya harus pensiun / dibuang, karena sudah tidak bisa terpakai lagi.

Umur ga bohong. Yang tadinya kita bisa kuat, seiring waktu menjadi tidak kuat lagi. Lambat laun hal itu akan terjadi. Bahkan mungkin lebih cepat dari perkiraan. Karena umur dan kesehatan kita, siapa yang tahu. Hal ini menjadi sebuah permenungan, agar kita tidak menyiakan waktu kita berlalu begitu saja.

"Manfaatkan mudamu, sebelum datang tuamu".
"Dan sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi sesama."

Just sharing. Hopefully little bit inspiring :)

No comments:

You might like