Saturday, November 24, 2012

Motivasi Menulis Blog (Lagi)


Sekarang- sekarang ini hobi menulis blog kayanya mulai ditinggalkan. Beberapa seleb online yang tadinya terkenal karena blog mereka, saya lihat juga mulai hiatus (alias tidak aktif menulis di blog lagi) dan mereka kebanyakan beralih ke media sosial lain yaitu Twitter.

Memang nge-Twit bisa dibilang lebih mengasyikkan, karena apa yang ditulis ga perlu panjang-panjang, cuma 140 karakter. Selain itu sifatnya yang interaktif. Dan yang mungkin menjadikan para 'seleb' ini lebih memilih Twitter dibanding blog sekarang ini adalah karena lebih mudah bagi mereka mendapatkan uang. Karena follower-nya banyak dan dia merupakan seorang buzzer atau influencer, maka dia bisa menjadi media iklan bagi yang mau beriklan. Sekali nge-twit bisa dapat jutaan rupiah lho. Bayangin kalo sehari dia berkali-kali nge-twit, sudah gitu kalikan dalam sebulan. Berapa duit yang bisa dia bawa pulang per bulannya? Modal nge-twit doank lho, yang bisa dilakonin pakai Hape sambil nongkrong di Kafe.

Pengalaman Mengajarkan etika dunia online buat pemula


Entah karena saya yang dulu kurang peka atau bagaimana, dulu saya tuh suka ngerasa aneh kalau ada orang yang setidaknya sudah lulus SMA tapi masih tidak bisa pakai komputer dan hal yang berkaitan dengan hal itu. Tapi memang kenyataannya saya sering menemukan hal itu. Bahkan pengalaman saya dulu malah ada teman kantor yang kuliahnya hampir beres (jadi kuliah sambil gawe), ga ngerti cara pakai flash disk dan nge-print file dari Microsoft Word. Parah banget kalo dipikir-pikir.

Thursday, November 22, 2012

“Semakin kaya orang, maka akan semakin sulit dia untuk membayar zakat dan sedekah”


Ga salah tuh kalimat yang di atas tadi kalau “Semakin kaya orang, maka akan semakin sulit dia untuk membayar zakat dan sedekah”. Lho kok bisa? Bukannya kalau duit banyak jadi gampang ngeluarin duit buat beramal, khan untuk memenuhi kebutuhan buat diri sendiri lebih dari mencukupi.

Judul tadi iya memang bisa dan masuk akal kok. Saya dapat kalimat tadi itu dari orang kaya lho, bukan dari orang biasa. Bapak milyuner yang ngobrol soal zakat dan sedekah ini bukan orang pelit, bahkan dia rajin beramal dan bersedekah. Tapi dia menjelaskan kenyataan mengapa hal tadi bisa terjadi secara logika.

Begini nih hitungannya ....

Cerita Lucu dari Seorang Pengusaha Sukses yang Sempat Jadi 'Orang Pintar'


Beberapa waktu ini saya memiliki pengalaman menarik, yaitu saya berkenalan dengan seorang pengusaha yang sukses dan rajin beramal shodaqoh. Dia asli putra daerah, tapi sukses di ibukota. Saya sendiri pernah menginap beberapa hari di salah satu apartemen punya dia dan main ke apartemen yang dia tinggali di dekat Mall Taman Anggrek, Jakarta. Asli memang tajir banget. Dan disela kesibukannya, dari beberapa pertemuan singkat, saya dapat banyak cerita menarik dan menginspirasi dari pengalaman dia.

Dia, seperti pada umumnya pengusaha, juga mengalami masa naik dan turun. Uniknya di saat dia jatuh, dia malah sempat dianggap sebagai 'orang pintar' atau penasihat spiritual. Mungkin, seperti pada umumnya, karena jatuh jadi mendorong orang untuk lebih rajin ibadah dan menjadi terlihat lebih wise kali ya. Dia cerita, ga tau kenapa banyak dari artis dan orang terkenal yang konsultasi ke dia waktu itu. Banyak hal lucu, yang malah secara kebetulan membuat dia 'terlihat sakti'.

Saya coba ambil salah satu cerita dia. Ada teman dia yang seorang pengacara terkenal mengeluhkan istrinya yang mengalami penyakit aneh. Katanya sudah berobat kemana-mana hingga keluar negeri, tetap saja tidak sembuh.

Menjadi Pengusaha Karena Kepepet


Unik juga kalau ngobrol dengan beberapa sobat dari jaman kuliah dulu yang sekarang memilih menjadi pengusaha dibanding harus bekerja di orang lain. Saya dulu kuliah di sebuah jurusan yang terbilang 'garing' di sebuah universitas swasta, yang katanya, waktu masuk, jurusan yang dimiliki kampus saya ini salah satu yang terbaik di Indonesia. Maksudnya 'garing' disini tadi adalah ilmu yang kami pelajari ini tergolong sulit, tapi kalau lulus, lapangan kerja yang tersedia yang sesuai dengan bidang keilmuan kami terbatas. Kalaupun ada dan bonafid, mereka meminta standar IPK yang tinggi. Dan kampus tempat kami kuliah ini terbilang pelit nilai. Kebanyakan dari anak-anak di jurusan saya IPK-nya kecil-kecil, termasuk saya, heu :D

You might like