Monday, July 23, 2012

"Di Setiap Krisis akan Selalu Memunculkan Orang Kaya Baru"


Beberapa waktu lalu saya ngobrol dengan seorang teman yang berprofesi sebagai broker di sebuah perusahaan sekuritas asing. Di tengah kondisi pasar saham yang saat itu sedang sepi transaksi dan IHSG yang cenderung turun / koreksi, ditambah banyak nasabah yang merugi, tentunya akan menjadi suatu hal yang menakutkan bagi seorang yang berprofesi di pasar modal, khususnya sebagai broker. Karena mau dapat transaksi dari mana, kalau nasabahnya bangkrut. Ya krisis ekonomi dunia sedang mengancam saat ini. Terutama masalah krisis ekonomi di Eropa yang ga beres-beres. Tapi ada yang menarik dari optimisme dia yang terlihat dari ucapan dia, yang kurang lebihnya:

“Di setiap krisis mungkin akan ada orang yang jatuh (bangkrut), tapi di setiap krisis akan selalu memunculkan orang kaya baru”. 

Cerita tentang nelayan dari Brazil


Setiap pagi seperti biasa di kantor saya sebelum mulai bekerja, ada rutinitas “berdoa bersama + performance”. Performance disini maksudnya setiap dari kami secara bergiliran (diundi) setiap harinya salah satu dari kami akan maju ke depan untuk perform segala macam yang dia bisa. Bisa sharing cerita, game, nge-garing atau bahkan sulap. Bisa si performer yang perform sendirian atau interaktif melibatkan teman-teman yang lain, terutama kalau game. Ga lama sih. Plus doa, total mengambil waktu kurang dari 30 menit.


Beberapa hari yang lalu ada yang berkesan dari performance salah satu dari teman kami, Arham. Dia sharing bercerita tentang “seorang nelayan dan pengusaha sukses di daerah Brazil.” Jadi ceritanya begini kira-kira:

Cerita ini terjadi di suatu daerah di Brazil. Pada suatu pagi menjelang siang hari seorang pengusaha yang terbilang sukses sedang berjalan di pantai dan bertemu dengan seorang nelayan muda yang baru pulang menangkap ikan. Lalu terjadilah percakapan di antara mereka. Si pengusaha ini menanyakan rutinitas harian si nelayan.

“How to die fire?”



Beberapa hari lalu ada yang lucu saat saya melihat iklan Axis yang menampilkan seri iklan Hap yang bercita-cita menjadi kiper. Di iklan yang saya lihat tersebut terlihat si Hap yang ingin menolong korban kebakaran, dan sebelum dia melakukannya dia Googling di hapenya dengan keyword: “How to die fire?”

Thursday, July 19, 2012

Tentukan passion-mu, sebelum mulai berbisnis



Banyak dari follower account twitter (tentang bisnis dan investasi) yang saya kelola menanyakan tentang bagaimana mengembangkan atau memulai bisnis. Biasanya pasti saya tanya balik: bisnis apa yang sedang dikerjakan, atau jika belum punya bisnis saya tanya: passion-nya apa? Apa hubungan passion dengan bisnis? Saya bisa dibilang kena virus oom Rene Suhardono (@reneCC), heu :D. Dia salah satu 'pelaku' yang bikin saya berani resign dari kerjaan sebagai broker :).

Balik ke yang tadi, sebelumnya saya ingin menjelaskan, bahwa saya menangkap salah satu ketakutan dari orang-orang yang nanya tadi adalah modal. Iya bisa dibilang modal (uang) itu penting, tapi bukan segalanya. Karena yang lebih utama adalah mental. Kalau mental tidak kuat, jika bertemu masalah, bisa langsung ngeper dan menyerah. Dan salah satu hal yang akan menguatkan mental kita, saat bisnis menghadapi masalah, apa yang dilakukan tidak memberi hasil sesuai harapan, dll, adalah kita enjoy dalam melakukan pekerjaan ini. Tetap 'move on' dan fokus. Tetap berenergi. Iya sumber rasa 'enjoy' ini karena kita suka dengan apa yang kita lakukan, karena ini adalah passion kita.

I love "Control + Z"


Salah satu (atau dua) hal yang membuat saya cukup senang belajar hal-hal yang berbau komputer, walaupun bukan yang rumit-rumit seperti programming dan lainnya, adalah adanya tombol Ctrl + Z (alias fasilitas undo) dan backup data :D. Beberapa yang biasa saya ulik seperti penggunaan  layanan-layanan di internet (terutama social media), software-software office, Operating System (OS), saham, download, desain grafis, dll..


Ya, 2 hal inilah yang membuat saya berani mencoba hal-hal baru di bidang komputer ini. Dua hal yang bisa dibilang 'mewah' dalam belajar sesuatu di dunia nyata. Dibilang mewah, karena anda boleh melakukan kesalahan, tanpa konsekuensi apapun, dan bisa belajar secara efektif dari kesalahan yang anda buat. Kalau anda bikin salah, biasanya jadi lebih ingat, khan? Mana ada yang kaya gini, kalau bukan di komputer. Manusiawi kalau orang takut bikin salah, biarpun dalam rangka belajar suatu hal baru.

Toyota Way: Pelajaran dari Toyota


Foto: topnews.in

Pagi tadi saya buka-buka koleksi majalah kantor & menemukan majalah Harvard Business Review lama, keluaran tahun 2007, dan saya menemukan artikel menarik tentang istilah yang sudah lama saya dengar: Toyota Way. Dan kebetulan siangnya di salah satu account Twitter yang saya maintain (tentang bisnis dan investasi), salah satu follower saya ada yang tanya: 
"Mana lebih baik ? Main dengan Qualitas atau harga miring ?".

Soal ini jadi 'agak' pas sama salah satu ucapan menarik dari VP Toyota, Mr. Watanabe:
“Kami tidak pernah mencoba menjadi nomor satu dalam volume atau pendapatan; selama kami terus meningkatkan kualitas kami, ukuran akan secara otomatis mengikuti”

Balik ke soal Toyota Way tadi, yang saya yakin nilai-nilainya bisa diterapkan di perusahaan kita, walaupun industri manufaktur sekalipun. Berikut hasil translate dari majalah HBR tadi.

Jadi Toyota telah mengembangkan metode & kepercayaan bisnis yang istimewa, berasal dari 5 prinsip yang telah ditetapkan pada tahun 1935 oleh pendiri perusahaannya, Sakichi Toyoda. Bagaimanapun, Toyota Way secara formal belum didokumentasikan sampai 2001, ketika perusahaan memahami bahwa pertumbuhan jumlah tenaga kerja Toyota di luar Jepang butuh dilatih secara ketat dalam penggunaannya. Dalam bahasa perusahaan Toyota, berikut ini dua pilar Toyota Way, yaitu:

You might like