Saturday, November 24, 2012

Pengalaman Mengajarkan etika dunia online buat pemula


Entah karena saya yang dulu kurang peka atau bagaimana, dulu saya tuh suka ngerasa aneh kalau ada orang yang setidaknya sudah lulus SMA tapi masih tidak bisa pakai komputer dan hal yang berkaitan dengan hal itu. Tapi memang kenyataannya saya sering menemukan hal itu. Bahkan pengalaman saya dulu malah ada teman kantor yang kuliahnya hampir beres (jadi kuliah sambil gawe), ga ngerti cara pakai flash disk dan nge-print file dari Microsoft Word. Parah banget kalo dipikir-pikir.



Tapi memang standar hidup dan pendapatan orang yang tidak sama, juga pola pikir tentang pembelajaran, terutama dalam hal pemanfaatan komputer yang tidak sama, dan banyak hal lainnya, semua itu bisa menjadi salah satu hal yang menyebabkan seseorang yang biarpun sudah dewasa tetap saja gaptek.

Beberapa teman saya yang masih baru lulus SMA-pun, saya temui masih banyak yang begitu. Memang mereka kebanyakan bukan dari keluarga yang mampu, jadi wajar mereka tidak punya komputer di rumahnya. Kasihan juga mereka, karena kemampuan menggunakan komputer dan hal-hal yang berhubungan dengannya seharusnya sudah menjadi kemampuan wajib yang sudah mereka kuasai untuk bisa dipakai di dunia kerja mereka.

Karena keterbatasan waktu, saya hanya bisa bantu mereka sedikit. Kebetulan karena mereka lagi coba melamar kerja, mereka saya coba ajarin bikin email dan tentang etika di dunia online. Seperti kita tahu, khan banyak anak jaman sekarang yang suka lebay kalau lagi online. Bisa kita lihat di status di akun FB atau Twitter mereka. Yang saya khawatirkan kalau yang mereka tulis itu suatu hal yang tidak pantas dikonsumsi publik. Dan amal perbuatan kita di dunia online akan dicatat oleh mbah Google lho :D. 

Dan jaman sekarang, orang HRD atau calon user itu sudah banyak yang suka cross check para pelamar kerjanya itu di dunia online. Jadi dia bisa tahu siapa saja teman dari pelamar ini, aktivitasnya apa saja, dan bagaimana kelakuannya. Kalo kerjaannya di online itu jadi tukang maki-maki, ngatain bosnya or gurunya, suka ngomong kotor, dll., apa pantas di-hire ni orang kaya gini?

Dan benar saja, dari nama email yang sudah mereka punya (teman-teman saya tadi) ternyata terkesan kekanakan or alay. Sudah gitu ternyata emailnya hasil dibuatkan orang lain, yang artinya kemungkinan password-nya bukan si pemiliknya saja yang pegang. Akhirnya saya coba ajarin bikin email yang profesional, yang pakai nama sendiri, plus saya tambahkan etika-etika apa saja yang harus diperhatikan di dunia online.

Kalau memang mau bebas berekspresi yang dirasa bisa membahayakan karir dia atau brand image diri dia, ya saya sarankan bikin akun anonim atau tidak tersangkut langsung ke dia. Misal dia senang/ peduli politik dan dia bikin status atau tulisan di social media yang mengkritisi seorang politikus atau suatu golongan/ partai, dan ga taunya tempat yang dia lamar kerja atau calon klien di tempat kerja barunya itu orang dekat politikus yang dia kritik tadi, nah lho gimana tuh. Kalau kitanya masih belum siap mental sih mending cari aman dulu deh di dunia online :)

Hmmm.... gara-gara itu tadi, jadi mimpi punya lab komputer yang bisa kasih bermacam-macam pelatihan gratis atau terjangkau buat yang ga mampu biar bisa lebih profesional di dunia kerja.

No comments:

You might like