Monday, July 23, 2012

"Di Setiap Krisis akan Selalu Memunculkan Orang Kaya Baru"


Beberapa waktu lalu saya ngobrol dengan seorang teman yang berprofesi sebagai broker di sebuah perusahaan sekuritas asing. Di tengah kondisi pasar saham yang saat itu sedang sepi transaksi dan IHSG yang cenderung turun / koreksi, ditambah banyak nasabah yang merugi, tentunya akan menjadi suatu hal yang menakutkan bagi seorang yang berprofesi di pasar modal, khususnya sebagai broker. Karena mau dapat transaksi dari mana, kalau nasabahnya bangkrut. Ya krisis ekonomi dunia sedang mengancam saat ini. Terutama masalah krisis ekonomi di Eropa yang ga beres-beres. Tapi ada yang menarik dari optimisme dia yang terlihat dari ucapan dia, yang kurang lebihnya:

“Di setiap krisis mungkin akan ada orang yang jatuh (bangkrut), tapi di setiap krisis akan selalu memunculkan orang kaya baru”. 



Hal itulah yang membuat dia tidak takut akan kehilangan nasabah dan kesulitan mencari nasabah baru. Jika ada nasabah yang bangkrut dan tidak mau main saham lagi, dia akan mencari yang baru. Pasti ada orang kaya baru (yang salah satunya muncul dari krisis) yang mau berinvestasi di saham, begitu pikirnya.

Di luar kaitannya dengan pasar modal, memang begitulah kejadiannya. Krisis mungkin akan membangkrutkan sebagian orang, tapi malah menguntungkan bagi sebagian orang. Bagi saya, masih segar ingatan tentang krisis ’98, dimana banyak orang yang jatuh bisnisnya karena krisis. Tiba-tiba saja terjadi perubahan radikal. Nilai kurs Rupiah terhadap mata uang lain jatuh parah, IDR 2000-an/ USD ke lebih dari IDR 15.000/USD, dan harga-harga naik, terutama yang merupakan barang impor. Tingkat bunga pinjaman juga tiba-tiba melonjak drastis, sampai sekitar 60%, kalau tidak salah, yang berperan besar membangkrutkan perusahaan-perusahaan yang memiliki pinjaman di bank. Thanks to IMF’s recipe for Indonesian crysis *sarcasm mode on*.

Dari krisis itu saya melihat beberapa konglomerat tumbang. Liem Sioe Liong dengan Salim Group-nya, Eka Tjipta W. dengan Sinar Mas-nya, bisnis-bisnisnya keluarga Cendana, dll.. Tapi dari krisis itu saya melihat munculnya konglomerat-konglomerat baru, seperti Chairul Tanjung, Harry Tanoesudibyo, Sandiaga Uno, dll.. Bisa dibilang siapa sih yang sering mendengar nama mereka sebelum krisis. Para konglomerat seperti Oom Liem, Eka Tjipta, dan lainnya, juga setahu saya meroket setelah krisis akhir tahun ‘60-an.

Pelajaran yang bisa diambil adalah, seperti halnya pepatah yang sering kita dengar, di balik setiap krisis yakinlah bahwa ada peluang. Kemampuan beradaptasi dengan perubahan dan memanfaatkan peluang yang ada, akan membuat kita bertahan dan semakin berkembang. Fokuslah pada solusi dan terus bergerak.

Semoga bermanfaat :)

Sumber gambar: Businessinsider.com

5 comments:

ibinkbink said...
This comment has been removed by the author.
ibinkbink said...

ni ngomongin ane ya gan?

Anton Fathoni said...

iya, bos :). loba inspirasi mun ngobrol jeung maneh

ibinkbink said...

halah ntar aja promonya pas ane dah jadi trainer ya bos :))

Wenny FM said...

Selamat Siang,
saya sudah membaca blog anda, sangat mudah di pahami dan saya sangat tertarik untuk bekerja sama dengan anda, kami dari Forexmart menawarkan kerja sama affiliasi yang sangat menguntungkan untuk anda, jika anda berminat dan tertarik dengan penawaran ini bisa menghubungi email saya di hellokittykucing89@gmail.com dan saya akan memberikan informasi yang lebih lengkap mengenai penawaran kerjasama ini.
Terima Kasih dan salam sukses untuk anda

You might like