Monday, July 23, 2012

Cerita tentang nelayan dari Brazil


Setiap pagi seperti biasa di kantor saya sebelum mulai bekerja, ada rutinitas “berdoa bersama + performance”. Performance disini maksudnya setiap dari kami secara bergiliran (diundi) setiap harinya salah satu dari kami akan maju ke depan untuk perform segala macam yang dia bisa. Bisa sharing cerita, game, nge-garing atau bahkan sulap. Bisa si performer yang perform sendirian atau interaktif melibatkan teman-teman yang lain, terutama kalau game. Ga lama sih. Plus doa, total mengambil waktu kurang dari 30 menit.


Beberapa hari yang lalu ada yang berkesan dari performance salah satu dari teman kami, Arham. Dia sharing bercerita tentang “seorang nelayan dan pengusaha sukses di daerah Brazil.” Jadi ceritanya begini kira-kira:

Cerita ini terjadi di suatu daerah di Brazil. Pada suatu pagi menjelang siang hari seorang pengusaha yang terbilang sukses sedang berjalan di pantai dan bertemu dengan seorang nelayan muda yang baru pulang menangkap ikan. Lalu terjadilah percakapan di antara mereka. Si pengusaha ini menanyakan rutinitas harian si nelayan.

Si nelayan menjawab, “Setiap pagi dini hari saya bangun di rumah saya yang di pinggir pantai dan pergi ke pantai untuk menangkap ikan. Sebelum siang hari saya selesai menangkap ikan dan lalu pergi ke pasar menjual ikan tangkapan saya. Biasanya hasilnya terbilang cukup untuk menghidupi keluarga kami untuk hari itu. Siangnya saya pulang ke rumah dan bermain dengan anak-anak saya. Sorenya saya tidur dengan istri dan anak-anak saya. Malamnya saya keluar ke kafe (warung) kecil dan nongkrong dengan teman-teman saya sambil minum dan nyanyi-nyanyi. Lalu sebelum tengah malam pulang dan tidur. Besoknya ya menangkap ikan lagi. Begitu seterusnya. Dan saya cukup puas dengan kehidupan yang saya jalani.”

Mendengar cerita itu, si pengusaha berceletuk, “Oh begitu ya. Begini, saya ini khan seorang pengusaha yang cukup berhasil dan doktor di bidang manajemen bisnis. Saya coba kasih masukan ya agar usaha kamu berkembang. Begini, khan sepulang menangkap ikan masih terbilang pagi. Kenapa tidak menangkap ikan sampai sore? Selain itu cobalah untuk mencari pinjaman untuk beli kapal dan membuat pabrik pengolahan ikan di pantai. Anda bisa menangkap ikan dari tengah malam sampai siang. Di pantai, hasil tangkapan bisa langsung diolah di pabrik pengolahan, misal menjadi makanan kaleng. Pabrik bisa beroperasi 24 jam. Ketika usaha berkembang, anda bisa terus menambah kapal dan pabrik. Produksi akan semakin meningkat. Pemasaran bisa meluas tidak hanya Sao Paolo, tapi bisa hingga seantero Brazil”.

Si pengusaha itupun menambahkan ,“Jika perusahaan berjalan baik, anda bisa melakukan go public. Anda melakukan Initial Public Offering (IPO). Anda jual saham anda ke para investor, sehingga menambah tambahan dana segar untuk mengembangkan usaha anda dan anda menjadi semakin kaya raya”.

Setelah pengusaha itu menjelaskan panjang lebar, nelayan muda itupun bertanya, “Ooo begitu ya. Kira-kira berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mewujudkan hal itu?” Pengusaha itupun menjawab, “Mungkin sekitar 10 sampai 15 tahun.”

Nelayan itupun kembali bertanya, “jika saya sudah kaya raya, lalu apa yang akan saya lakukan?”


Pengusaha itu menjawab, “jika kamu kaya, kamu bisa tinggal di pinggir pantai, bangun tiap pagi menangkap ikan. Hanya sebentar. Paling sampai sebelum siang. Lalu siangnya anda bisa bermain dengan anak-anak anda. Sorenya bisa tidur bareng istri dan anak-anak. Malamnya bisa nongkrong dengan teman-teman anda sambil nyanyi-nyanyi.”

Dengan keheranan, lalu nelayan itu lalu berkata ke pengusaha tersebut, “bukankah itu yang sedang saya lakukan?”

Cerita tadi merupakan cerita yang berkesan menurut saya. Bukan tentang mengajarkan kita menjadi ‘pemalas dan atau tidak mau berkembang’. Tapi lebih ke mengajarkan kita untuk memikirkan kembali tujuan hidup kita. Banyak dari kita bekerja dari dini hari sampai tengah malam, mengesampingkan keluarga, memangnya untuk apa? Kalau tujuannya cuma untuk mengumpulkan uang agar menjadi kaya raya, bahkan mungkin berambisi menjadi orang paling kaya di Indonesia, apa menjadi manusia terkaya merupakan indikator sebagai manusia paling bahagia?

Cerita tadi bagi saya seperti menyuruh kita untuk bersyukur dan seimbang dalam menjalani hidup. Kalaupun kita ingin menjadi kaya, tidak lebih agar bisa memberi yang terbaik (ingat: bukan yang termahal) bagi kita dan orang-orang yang kita cintai dan bisa lebih membantu dan bermanfaat bagi sesama. Anda tidak butuh Rolex, kalau hanya untuk sekedar tahu waktu sekarang ini jam berapa.

Bukan bermaksud menggurui, tapi beharap bisa menjadi inspirasi dan semoga bermanfaat :)

Sumber gambar: flickr & josefpolleross.com

No comments:

You might like